Posted by: senimangoblok | June 29, 2008

Cinta dan Alasan

Bahkan seorang ibu pun akan sulit menjelaskan pengertian cinta secara utuh. Bukan pula itu salah beliau. Semuanya terjadi dikarenakan selama ini cinta hanya diketahui keberadaannya di saat seseorang baru menemukan sejumput kesenangan dari sesuatu hal yang ditemukannya, yang mana hasil penemuan itu mampu membawanya kepada suatu titik kenikmatan baru pula.

Bukan rahasia lagi, pengorbanan seseorang dalam menemukan cinta kadangkala sangat sering sekali melahirkan korban-korban. Mereka berebut. Berlomba-lomba mengejar antara satu dengan lainnya. Sampai-sampai itu mampu memunculkan suatu persoalan baru yaitu persaingan, baik persaingan secara fisik maupun bathin. Dan yang anehnya-baik disadar maupun tidak disadar-ternyata cinta yang kita kejar selama ini bukanlah cinta sebenarnya.

Lah kok. Ya, karena rupa-rupanya selama ini kita masih terjebak di dalam cinta yang timbul dengan berbagai bentuk alasan-alasan rasional. Dengan kata lain, tidak tulus. Selalu beralasan. Larut di dalam timbang-timbangan untung-rugi, positif-negatif lahiriah.

Saya ingat satu tulisannya budayawan(seniman) yang cukup dikenal di Nusantara, Sujiwo Tejo. Beliau pernah menuliskan berkaitan dengan hal ini dan kebetulan juga tema yang diangkatnya tentang ‘mengapa cinta butuh alasan’. Cukup menonjok sekali. Beliau menyebutkan, jika kamu ditanya mengapa kamu jatuh cinta kepada seseorang dan kamu bisa menjawabnya, maka tragedi telah terjadi. Kemudian ia melanjutkan lagi, bahwasannya disaat itu kamu baru menemukan rasa hati menyerupai cinta, tapi cinta yang sejati belum didapatkan. Sangat menarik sekali. Dari awal tulisan beliau tersebut sudah sangat tegas menyebutkan, satu-satunya sikap di dalam hidup yang dasarnya tak ada alasan yaitu cinta.

Tersinggung? Ya… saya pun demikian dan banyak sekali pertanyaan dikepala ini. Tapi, cobalah untuk redam dulu. Setidaknya beliau telah memberikan sedikit terapi berarti bagi kita untuk di aplikasikan. Beliau sedikit mengajarkan kita bagaimana membuktikan salah benarnya pendapatnya. Cobalah sekali-kali bertanya kepada diri sendiri, atau kepada pacar/pasangan, mengapa kamu mencintai?. Mungkin, ia akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban-jawaban yang rasional dan menyenangkan untuk didengar tentunya. Beda lagi begitu kita ditanya pak ustadz, mengapa kamu cinta tuhanmu. Ini akan ada lagi jawaban yang lain. Dan pastinya melahirkan kembali alasan-alasan rasional yang keluar dari mulut kita untuk menjawab.

Untuk itu, marilah renungkan lagi pengertian bercinta dengan tulus. Tidak dengan alasan. Lalu padu padankan juga dengan petikan bait puisinya WS Rendra yang berjudul ’sajak seorang tua untuk istrinya’ berikut: …..Kita, menyandang tugas/Karena tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang manusia!…

Benar. Saya sangat setuju dengan bait ini. Karna di dunia ini kita hanya diperkenalkan kepada dua hal, yaitu Pahala dan Dosa. Dan kita pun tidak pula mendapatkan batasan-batasan secara saklak mengenai apa itu Dosa dan Pahala. Akhirnya yang kita ketahui hanyalah Dosa, sedang Pahala, waallahualam bisawaf, hanya Al-Khalik yang tau. Maka dari sini mungkin bisa juga dikaitkan lagi dengan pernyataan Sujiwo Tejo tadi. Mengapa cinta butuh alasan.

Sekali lagi ini hanya pendapat tiap individu menggunakan egonya masing-masing. Baik Sujiwo Tejo, Rendra maupun saya sendiri.

Ya, walaupun sebenarnya pendapat tersebut juga tidak ada salah-salahnya apalagi benar-benarnya secara mutlak. Tapi paling tidak ini bisa sedikit menambah referensi kita mengenai pengertian dan pelaksanaan cinta dari sudut pandang orang lain, yang mana selama ini kita kenal cinta itu karena ada suatu alasan tertentu. Lalu ini beda. Mari, nikmatilah perbedaan itu. Sampai kita tahu, ternyata perbedaan itu sangat indah. (*)


Responses

  1. antownholicontest#3 sudah dibuka. Please visit my blog


Leave a response

Your response:

Categories