Posted by: senimangoblok | July 10, 2008

Tragedi dan Puisi

penulis: Bandung Mawardi

Aristoteles dalam Poetics melakukan ikhtiar pembacaan dan eksplanasi mengenai tragedi dengan acuan kebudayaan Yunani. Dalam pengungkapannya, tragedi memakai bahasa yang atraktif sensual. Pemakaian bahasa itu menimbulkan adanya rasa kasihan dan ketakutan yang digambarkan dalam tindakan-tindakan tragis dan karakteristik-karakteristik emosional. Substansi tragedi adalah imitasi dari tindakan dalam kehidupan yang didasarkan pada kualitas moral sesuai karakter bahagia atau derita. Pemahaman Aristoteles mengenai tragedi dalam konteks puisi merepresentasikan kekuatan tragedi yang mengungkapkan persoalan hakikat manusia dan kehidupan.

Istilah tragedi berasal dari bahasa Yunani “tragidio” yang berarti ‘nyanyian sendu’. Tragedi pada awalnya dikenal dalam seni drama Yunani yang menceritakan peristiwa kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah moral, arti eksistensi manusia, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dewa-dewanya. Tragedi dalam manifestasi seni menghadirkan keindahan dan kesenangan yang mengandung potensi sebagai sakit dan trauma.

Deleuze menjelaskan bahwa Nietzsche memahami tragedi sebagai dialektika yang menghubungkan sesuatu yang negatif, penentangan, dan kontradiksi tentang penderitaan dan kehidupan manusia. Konsep tragedi dalam pemikiran Nietzsche didasarkan pada dua kekuatan besar dalam mitologi Yunani yang disebut sebagai “dionysian” (kegairahan) dan “apollonian” (kelemahan). Pemahaman Nietzsche itu menunjukkan bahwa ada orientasi yang mengantarkan manusia pada kondisi kuat (positif) atau lemah (negatif) dalam menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Tragedi adalah suatu pengalaman interaktif, mistis, dan menyatukan yang memberikan jalan keluar terapatis bagi orang yang peka terhadap penderitaan dan ketidakpastian hidup sehari-hari. Nietzsche menyebutkan bahwa tragedi Yunani dalam bentuknya yang paling tua dominan mengungkapkan penderitaan-penderitaan.

Wacana tragedi itu patut menjadi acuan dalam pembacaan dan penilaian puisi-puisi Joko Pinurbo yang merepresentasikan tragedi dalam kisah-kisah hidup manusia.  Puisi Doa Sebelum Mandi adalah puisi getir.

Puisi ini dibuka dengan doa yang memelas bahwa tokoh “saya” takut mandi. Mandi sebagai peristiwa membersihkan tubuh (diri) dipahami sebagai peristiwa yang mengandung ketakutan untuk dilucuti. Ketakutan itu hendak menolak fakta tubuh menjadi telanjang tanpa apa-apa. Tubuh menjadi representasi diri manusia yang merasa malu atau takut pada dirinya sendiri ketika telanjang. Ketakutan yang berasal dari tubuh lantas tumbuh sebagai ketakutan pikiran dan perasaan. Ketakutan terhadap tubuh sendiri mengartikan ada persoalan yang terkandung dalam pemaknaan diri melalui tubuh. Ketakutan itu ternyatakan dalam kalimat, “Saya takut dilucuti. Saya takut pada tubuh saya sendiri.”

Tubuh itu mengandung aib yang bakal terbuka ketika mandi. Aib adalah suatu keburukan yang susah atau tidak pantas untuk dikabarkan pada orang lain. Aib mesti terkubur dan sembunyi dalam tubuh untuk pengertian diri sendiri. Hal itu disadari tokoh “saya” yang merasa aib itu mungkin menjadi tragedi dalam prosesi mandi. Aib akan terbuka dan bicara segala sesuatu yang mengandung kekuatan menghajar dan membunuh diri. Tokoh “saya” menjadi takut untuk mandi karena dalam mandi akan hadir “mayat”. Mayat itu adalah kematian orang-orang karena pembunuhan yang dilakukan tokoh “saya” untuk melunaskan diri sebagai “orang miskin celaka”. Pembunuhan itu terjadi untuk hidup dalam pengertian ekonomis.

Pembunuhan menjadi pekerjaan yang paling mungkin karena “kerja saya adalah mencari pekerjaan”.
Hidup sebagai orang miskin adalah tragedi. Pembunuhan untuk mempertahankan hidup adalah tragedi. Tubuh dengan memori kematian adalah tragedi. Aib diri adalah tragedi. Mandi mungkin menjadi laku pembersihan diri yang mengingatkan dan menyadarkan diri untuk berani mengafirmasi dan menegasi tragedi.

Puisi Kepada Uang adalah puisi yang mengisahkan pergulatan manusia dengan uang untuk bisa hidup. Puisi ini memosisikan manusia di hadapan uang dengan pelbagai permintaan dan keinginan. Manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki ketergantungan pada uang. Uang menempati posisi yang penting dan menentukan hidup seseorang. Uang menjadi persoalan yang sudah dihadapi manusia sejak sekian abad yang lalu sampai saat sekarang. Uang pada akhirnya dipahami sebagai persoalan ekonomi, politik, sosial, agama, filsafat, hukum, dan kebudayaan.

Puisi ini diawali dengan suatu permintaan, “Uang, berilah aku rumah yang murah saja.” Permintaan ini mengisyaratkan bahwa uang dianggap penting untuk merealisasikan keinginan-keinginan manusia. Uang, yang semula dipahami sebagai alat tukar, berubah sebagai penentu hidup dan mati manusia. Permintaan pada uang menjelaskan posisi manusia yang lemah di hadapan uang. Uang memiliki kekuatan untuk memengaruhi dan menentukan nasib manusia. Uang adalah kuasa.
Keinginan memiliki rumah mesti tertangguhkan karena kemiskinan. Keinginan dan kemiskinan adalah pertentangan yang susah didamaikan. Keinginan itu ide dan kemiskinan itu realita. Kemiskinan menjadi tragedi ketika keinginan tak mungkin direalisasikan.

Orang miskin merasa mimpi bisa menjadi ekspresi yang masih mungkin diciptakan meski berlawanan dengan realitasnya. Keinginan memiliki rumah ditangguhkan, “Sabar ya, aku harus menabung dulu.” Penangguhan itu merepresentasikan kondisi hidup yang tragis. Menabung tidak berarti menyimpan uang sebagai dana cadangan atau kelebihan dari pengeluaran. Menabung memiliki arti yang memprihatinkan.

Menabung adalah menyimpan atau menahan rasa lapar. Menabung adalah menyimpan mimpi-mimpi yang diciptakan. Orang miskin membutuhkan mimpi sebagai ikhtiar menyelamatkan diri atau menghibur diri dari penderitaan. Mimpi itu terpusat pada uang.

Puisi-puisi Joko Pinurbo adalah kisah-kisah tragedi yang terkadang melahirkan senyum kecil (humor), tapi pahit. Tokoh-tokoh manusia dalam puisi-puisi Joko Pinurbo menjadi representasi kegagalan manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan soal-soal hidup. Tragedi-tragedi itu pertanyaan atau jawaban?

BANDUNG MAWARDI
Kritikus sastra dan peneliti pada Kabut Institut, Solo

(tulisan ini telah diterbitkan Harian Seputar Indonesia, Minggu 06 Juli 2008)

BIOGRAFI PENULIS

Nama : Bandung Mawardi

TTL : Karanganyar, 18 Januari 1981

Keterangan : Peneliti pada Kabut Institut (Pusat Studi Sastra, Filsafat, Agama, dan Kebudayaan) di Solo; Pemenang 2 Sayembara Penulisan Kritik Sastra, Dewan Kesenian Jakarta 2007; Tulisan-tulisan dimuat di Kompas, Seputar Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pelita, Joglosemar, Gong, dll

Alamat : Gang Kepuh 30 B, RT 1 RW IX, Petoran, Jebres, Solo, Jawa Tengah

Posted by: senimangoblok | June 29, 2008

Cinta dan Alasan

Bahkan seorang ibu pun akan sulit menjelaskan pengertian cinta secara utuh. Bukan pula itu salah beliau. Semuanya terjadi dikarenakan selama ini cinta hanya diketahui keberadaannya di saat seseorang baru menemukan sejumput kesenangan dari sesuatu hal yang ditemukannya, yang mana hasil penemuan itu mampu membawanya kepada suatu titik kenikmatan baru pula.

Bukan rahasia lagi, pengorbanan seseorang dalam menemukan cinta kadangkala sangat sering sekali melahirkan korban-korban. Mereka berebut. Berlomba-lomba mengejar antara satu dengan lainnya. Sampai-sampai itu mampu memunculkan suatu persoalan baru yaitu persaingan, baik persaingan secara fisik maupun bathin. Dan yang anehnya-baik disadar maupun tidak disadar-ternyata cinta yang kita kejar selama ini bukanlah cinta sebenarnya.

Lah kok. Ya, karena rupa-rupanya selama ini kita masih terjebak di dalam cinta yang timbul dengan berbagai bentuk alasan-alasan rasional. Dengan kata lain, tidak tulus. Selalu beralasan. Larut di dalam timbang-timbangan untung-rugi, positif-negatif lahiriah.

Saya ingat satu tulisannya budayawan(seniman) yang cukup dikenal di Nusantara, Sujiwo Tejo. Beliau pernah menuliskan berkaitan dengan hal ini dan kebetulan juga tema yang diangkatnya tentang ‘mengapa cinta butuh alasan’. Cukup menonjok sekali. Beliau menyebutkan, jika kamu ditanya mengapa kamu jatuh cinta kepada seseorang dan kamu bisa menjawabnya, maka tragedi telah terjadi. Kemudian ia melanjutkan lagi, bahwasannya disaat itu kamu baru menemukan rasa hati menyerupai cinta, tapi cinta yang sejati belum didapatkan. Sangat menarik sekali. Dari awal tulisan beliau tersebut sudah sangat tegas menyebutkan, satu-satunya sikap di dalam hidup yang dasarnya tak ada alasan yaitu cinta.

Tersinggung? Ya… saya pun demikian dan banyak sekali pertanyaan dikepala ini. Tapi, cobalah untuk redam dulu. Setidaknya beliau telah memberikan sedikit terapi berarti bagi kita untuk di aplikasikan. Beliau sedikit mengajarkan kita bagaimana membuktikan salah benarnya pendapatnya. Cobalah sekali-kali bertanya kepada diri sendiri, atau kepada pacar/pasangan, mengapa kamu mencintai?. Mungkin, ia akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban-jawaban yang rasional dan menyenangkan untuk didengar tentunya. Beda lagi begitu kita ditanya pak ustadz, mengapa kamu cinta tuhanmu. Ini akan ada lagi jawaban yang lain. Dan pastinya melahirkan kembali alasan-alasan rasional yang keluar dari mulut kita untuk menjawab.

Untuk itu, marilah renungkan lagi pengertian bercinta dengan tulus. Tidak dengan alasan. Lalu padu padankan juga dengan petikan bait puisinya WS Rendra yang berjudul ’sajak seorang tua untuk istrinya’ berikut: …..Kita, menyandang tugas/Karena tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang manusia!…

Benar. Saya sangat setuju dengan bait ini. Karna di dunia ini kita hanya diperkenalkan kepada dua hal, yaitu Pahala dan Dosa. Dan kita pun tidak pula mendapatkan batasan-batasan secara saklak mengenai apa itu Dosa dan Pahala. Akhirnya yang kita ketahui hanyalah Dosa, sedang Pahala, waallahualam bisawaf, hanya Al-Khalik yang tau. Maka dari sini mungkin bisa juga dikaitkan lagi dengan pernyataan Sujiwo Tejo tadi. Mengapa cinta butuh alasan.

Sekali lagi ini hanya pendapat tiap individu menggunakan egonya masing-masing. Baik Sujiwo Tejo, Rendra maupun saya sendiri.

Ya, walaupun sebenarnya pendapat tersebut juga tidak ada salah-salahnya apalagi benar-benarnya secara mutlak. Tapi paling tidak ini bisa sedikit menambah referensi kita mengenai pengertian dan pelaksanaan cinta dari sudut pandang orang lain, yang mana selama ini kita kenal cinta itu karena ada suatu alasan tertentu. Lalu ini beda. Mari, nikmatilah perbedaan itu. Sampai kita tahu, ternyata perbedaan itu sangat indah. (*)

« Newer Posts - Older Posts »

Categories